“Minyak, Israel, dan ideologi.”

“Menurut perspektif Yahudi, serangan 11 September merupakan peristiwa yang sangat penting dan sangat menguntungkan bagi Israel.” Demikian menurut Ehud Sprinzak seorang pakar terorisme dan juga pengajar di Universitas Hebrew Jerussalem, Israel.

Pernyataan tersebut bukan isapan jempol belaka, karena menurut Samuel P. Huntington dalam bukunya Clash Of Civillization (Benturan Peradaban), setelah Uni Soviet (The Red Evil) berhasil dilenyapkan, maka musuh bersama Barat selanjutnya adalah Islam yang mereka cap sebagai The Green Enemy.

Dan setelah mengetahui fakta besar yang sengaja dikubur tersebut (melalui sumber-sumber bacaan/referensi yang sahih), maka kita mungkin akan bersikap seperti Michael Meacher sang mantan Menteri Luar Negeri era PM Tony Blair dari Inggris yang merasa kecewa terhadap sikap atasannya tersebut yang sangat getol serta membabi buta dalam mendukung Bush dalam menyerang Irak, Meacher yang memilih mengundurkan diri dari kabinet Blair sebagai bentuk protesnya berkata,”Saya curiga peristiwa 911 disengaja untuk terjadi, bahkan bisa jadi memang direncanakan. Motivasi utama Bush melakukan itu adalah untuk mencari pembenaran bagi langkahnya untuk menguasai wilayah Kaspia dan Timur Tengah yang kaya minyak. AS dan Inggris telah memperkirakan bahwa Dunia Muslim akan menguasai 60 % cadangan minyak di tahun 2010. AS yang pada tahun 1990 masih bisa menutupi 57% kebutuhan energinya secara domestik diperkirakan hanya akan mampu menutup 39% pada tahun 2010. Sedangkan Pemerintah Inggris telah mengatakan sekitar 70% kebutuhan listriknya berasal dari gas di tahun 2020 dan 90% dari itu harus ditutup lewat kran impor. Irak memiliki cadangan minyak berlimpah dan gas sebanyak 110 miliar c.f. Selain Irak, wilayah Kaspia juga telah lama dibidik. Komisi Kepentingan Nasional AS pada Juli 2000 menandaskan hal ini. Sebab itulah Afghanistan juga menjadi sasaran. Untuk bisa menguasai ladang-ladang itu tentu diperlukan pintu masuk. Runtuhnya WTC pada 11 September 2001 adalah gerbang emasnya.”
Dan jika dalam benak anda masih bertanya kenapa ya kok wilayah kaya minyak mayoritas berada di wilayah Timur Tengah yang didominasi Muslim sang Musuh Hijau Israel dan AS. Apakah ini kebetulan ataukah Tuhan memang men-desain demikian. Wallahu A’lam, namun yang jelas jika saat ini Timur Tengah selalu identik dengan perang dan kekacauan seperti yang terjadi di Irak, Palestina, Afghanistan, Libya, dan juga Yaman baru- baru ini, itu bisa saja karena Negeri Barat yang sedang menjajah negeri-negeri TimTeng tersebut se-iya seirama dengan pendapat Prof. Karl Ernst Haushofer, sang Pakar Geopolitik berdarah Yahudi Jerman yang pernah mengatakan,”Barangsiapa menguasai Timur Tengah, maka Ia menguasai dunia. Dan barangsiapa yang menguasai Palestina, maka Ia telah menguasai jantung dunia.”

Dan berdasar Rekaman terbaru yang dirilis terkait insiden 9/11 menunjukkan bahwa pemerintah AS melancarkan serangan di New York untuk menghilangkan ancaman Saddam Hussein kepada Israel dan menguasai minyak Irak, seorang analis politik mengatakan kepada Press TV.

Menurut editor senior Veteran Today Dr James Fetzer, urutan kejadian tidak sebanding dengan informasi yang dirilis oleh pemerintah AS.

“Tanpa diragukan lagi siapa pun yang mengambil serius melihat situasi secara fisika, rekayasa, aerodinamika, akan menyadari bahwa segala sesuatu hampir pasti di mana pemerintah AS sendiri memberitahu kami tentang insiden 9/11 adalah palsu,” katanya kepada Press TV dalam sebuah wawancara.

Fetzer mengatakan bahwa kecelakaan pesawat akan “menyebabkan beberapa bangunan asimetris dan menyebabkan kemiringan bukan kehancuran total dan merubah dari dua bangunan menjadi jutaan meter kubik debu yang sangat halus.”

Dia melanjutkan dengan menambahkan bahwa “api tidak membakar cukup lama atau cukup panas untuk menyebabkan baja ini untuk hancur, apalagi meleleh.”

Menurut editor senior itu, insiden 9/11 termotivasi oleh tiga keprihatinan: “Minyak, Israel, dan ideologi.”

Fetzer mengatakan bahwa serangan itu digunakan sebagai alasan untuk mengambil kontrol atas minyak Irak, dan untuk melindungi Israel, pada saat Saddam Hossein berusaha”memaksakan” ancaman terhadap rencana politis Israel mendominasi Timur Tengah.

Dia menambahkan bahwa pejabat departemen pertahanan seperti Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, Richard Pearle, dan Jenderal Richard Myers di antara tokoh-tokoh yang memainkan peran yang berpengaruh dalam langkah tersebut sepanjang ideologi Amerika menyetujui perang terhadap negara-negara Timur Tengah yang belum menyerang Amerika Serikat.

Nah, kini semoga kita perlahan mulai terbuka dalam memandang peristiwa 9/11 dalam bingkai objektifitas yang mengusung fakta sahih dalam melihat sebuah kasus. Karena dunia pun kini perlahan mulai mengetahui bahwa AS terutama George W. Bush ternyata hanyalah seorang pembual ulung. Menurut sebuah warta terbaru yang saya kutip dari eramuslim.com, sebuah misteri yang belum terselesaikan dari insiden 9/11 adalah runtuhnya gedung World Trade Center 7, beberapa jam setelah runtuhnya WTC-1 dan WTC-2, padahal gedung ini sama sekali tidak pernah ditabrak oleh pesawat.

Para ilmuwan, arsitek dan insinyur di seluruh dunia telah mempertanyakan versi resmi tentang bagaimana WTC-7 jatuh, menambahkan bahwa bangunan ini dibangun untuk melawan kekuatan yang tangguh bahkan kekuatan alam sekalipun.

Berdasarkan klaim oleh pemerintah AS, gedung WTC-7 yang berbingkai baja hancur dan runtuh oleh kebakaran kantor yang ada di dalam gedung itu.

Shyam Sunder, pimpinan penyidik ​​di Institut Nasional Standar dan Teknologi (NIST) – sebuah organisasi yang dikelola negara – mengatakan, “WTC- 7 runtuh karena dipicu oleh kebakaran perabotan kantor.”

Namun, para ahli mengatakan bahwa sebuah bangunan dengan kerangka baja tidak pernah runtuh setelah beberapa jam terbakar oleh api.

“Kebakaran belum pernah menyebabkan runtuhnya gedung pencakar langit manapun. Meskipun ada banyak contoh kebakaran yang jauh lebih panas, lebih besar, dan lebih lama membakar bangunan-bangunan ini,” kata arsitek Richard Gage.

Pakar metalurgi insinyur McGrade Kathy menyatakan, “Anda tidak bisa menghasilkan panas yang cukup untuk melelehkan baja.”
Menurut saksi mata, ledakan besar terdengar sebelum WTC-7 runtuh.

Skenario resmi NIST yang menyatakan keruntuhan total bangunan WTC-7 akibat kebakaran, menurut para ahli, benar-benar mustahil.

Semua kolom baja harus dipotong pada saat yang sama agar struktur bangunan bisa jatuh dengan cara seperti itu, berdasarkan apa yang disampaikan pakar struktur bangunan insinyur Michael Donly.

NIST sendiri menolak kemungkinan apapun keruntuhan WTC-7 akibat bom kontrol, dan mereka juga menolak untuk menguji residu peledak, yang bisa mendokumentasikan bukti dari baja yang meleleh dari bangunan WTC-7.
Keluarga korban WTC-7 telah meminta bahwa penyebab keruntuhan bangunan diselidiki secara hati-hati karena jutaan orang di seluruh dunia, dan bukan hanya ilmuwan dan insinyur, ingin pertanyaan-pertanyaan yang masih menjadi tanda tanya runtuhnya bangunan itu segera terjawab. Dan akhirnya semua bualan Bush tersebut kini menuai hasilnya di negerinya sendiri. Karena menurut sebuah jajak pendapat di Amerika Serikat menemukan fakta bahwa mayoritas orang Amerika percaya bahwa kebijakan Washington menyusul setelah serangan 9/11, yang harus disalahkan untuk masalah krisis ekonomi negara saat ini.
Menurut survei, yang dilakukan oleh lembaga think-tank terkemuka Washington, The Brookings Institution, menyebutkan bahwa 59 persen warga AS percaya bahwa negara mereka “over-investasi” dalam perang Irak dan Afghanistan serta dalam pembangunan aliansi, yang hal tersebut sangat berkontribusi terhadap kesengsaraan ekonomi bangsa saat ini, AFP melaporkan Kamis kemarin (8/9).
Ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan defisit anggaran besar negara saat ini salah satu keprihatinan terbesar warga Amerika.
Hal ini datang pada saat pemerintah AS baru-baru ini mengumumkan bahwa Agustus 2011 adalah bulan pertama dari penciptaan “zero” lapangan kerja sejak akhir Perang Dunia II.
Hampir 66 persen dari mereka yang disurvei menyatakan bahwa kekuatan dan pengaruh global Amerika memudar sejak tahun 2001, sementara 69 persen menyetujui kebijakan Presiden Barack Obama untuk mengurangi pasukan AS di Afghanistan dan bukan membangun pasukan keamanan Afghanistan.
Survei ini dilakukan pada 19 Agustus lalu dengan menggunakan sampel yang representatif dari 957 orang dewasa Amerika.
Untuk menutup seduhan ini saya ingin mengutipkan sebuah peringatan apik dari Tuhan kepada kita dalam kitab suci Nya yang berbunyi, ” Dan sesungguhnya mereka telah membuat MAKAR yang besar, padahal di sisi Allah-lah (balasan) MAKAR mereka itu. Dan sesungguhnya MAKAR mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. “ (QS. Ibrahim [14]: 46).
(Diolah dari berbagai sumber)
Diseduh Oleh : Musyaf Senyapena (senyapena@gmail.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: